Tuesday, January 4, 2022
Be Good Do Good
Saturday, June 5, 2021
KAPITALISME DAN EKSPLOITASI DI TANAH FLORES
2021, setelah petualangan di pegunungan panjang Himalaya sampai hunting aurora dibagian paling selatan Tasmania akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke timur, ya! Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Tidak ada ekspektasi ketika saya pergi kesana, hanya sailing trip yang ada dipikiran saya saat itu karena siapa yang tidak penasaran dengan keindahan area Bajo? Biarpun tidak terlalu suka pantai tapi diotak saya saat itu hanya "Its OK, once in a life time".
Setibanya di Labuan Bajo, saya merasakan bahwa banyak pembangunan yang dilakukan pemerintah maupun swasta, mulai dari trotoar yang layak untuk pedestrian sampai beberapa resort besar yang sudah tidak asing lagi namanya ditelinga masyarakat kota besar. Dengar dari masyarakat bahwa kini Labuan Bajo dan Komodo menjadi pariwisata Premium, makanya pembangunannya jor-jor-an.
Dua hari pertama saya di Labuan Bajo saya bangun setiap jam 5 pagi hanya untuk berjalan kaki melihat kehidupan pagi masyarakat Bajo, ya, saya tipe morning person yang suka sekali liat sunrise, hunting sarapan khas daerah, sambil minum kopi hitam tanpa gula.
Setiap pagi saya berjalan mulai dari area pantai yang tak ada kehidupan sampai di area kota melihat aktifitas pasar yang tidak sesibuk yang saya kira, tentu yang menarik buat saya satu jalan disebuah pengkolan penuh dengan jajanan dan sarapan tradisional yang dijual ibu- ibu Labuan Bajo. Maklum saya cinta sekali dengan makanan lokal, seperti yang saya selalu bilang di beberapa postingan blog saya bahwa makanan adalah identitas autentik sebuah daerah.
3 HARI BERLAYAR
Singkat cerita akhirnya tibalah hari dimana saya berlayar, dimana selama 3 hari saya akan tinggal di kapal, kebanyakan orang menyebutnya 'living on board' / 'sailing trip'. Ini pertama kali saya berlayar lebih dari satu hari, deg degan karena saya bukan water/ sea/ beach person, lemah sama laut, mudah mabuk hanya dengan sedikit guncangan hahaha, culun memang.
Selama sailing saya diperlihatkan keindahan alam laut Flores, sayang masih banyak warga terutama awak kapal, guide, masyarakat setempat yang tidak punya sense of belonging terhadap Flores, banyak sampah di laut, bahkan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri awak kapal yang saya naiki membuang sampah kelaut tanpa rasa bersalah. Terlihat juga karang yang rusak selama saya freedive, dan kotornya beberapa pulau terutama Pulau Komodo, bayangkan saja tiket masuk yang dibandrol untuk masuk ke Taman Nasional ini tidak lah murah terutama untuk WNA, tidak tau apa fungsi dari tiket masuk itu jika pulaunya tidak lestari dan tidak ada satu pun yang peduli.
Selama 3 hari sailing mata saya sangat terbuka dan sadar betapa Labuan Bajo dan Komodo hanya tentang eksploitasi dan mencari keuntungan. Turisnya pun tidak teredukasi untuk hanya sekedar membuang sampah pada tempatnya, boro- boro zero waste. Mereka hanya berfikir "yang penting saya punya foto bagus". Tidak sekali saya DIUSIR dari tempat saya duduk untuk sekedar menikmati sunrise, kata mereka posisi saya duduk membuat foto mereka jadi 'bocor', update status di instagram lebih penting daripada menikmati momen sunrise dan pagi disetiap detik yang jarang didapatkan di Jakarta.
DESA MELO.
Setelah saya selesai sailing, saya tidak tahu apa yang membawa saya bisa mengetahu sebuah daerah/desa yang di sebut Melo. Kurang lebih 1 jam dari Labuan Bajo, disini saya tinggal ditempat yang sangat berbeda dengan suasana Labuan Bajo. Sangat tenang, jauh dari kebisingan kota, tidak ada listrik, tidak ada sinyal, udaranya sejuk, tidak banyak kendaraan.
Setibanya saya di Melo, saya disambut oleh wanita dengan senyum sangat tulus, saya panggil dia Kakak Yosefin, dia adalah kepala DAPUR TARA FLORES memasak menjadi sebuah passion dan bentuk cinta, yang unik adalah kami pergi ke kebun/ hutan untuk mencari dedaunan yang bisa kita masak, saya benar- benar terkagum betapa mereka sangat menikmati sebuah proses, percaya bahwa bumi menyediakan dan mencukupkan apa yang kita butuh. Saya benar- benar menikmati semua proses mulai dari memetik daun singkong, menumbuk bumbu, sampai makan di atas batu ditengah hutan dekat dengan tempat tinggal mereka.
Saya menghabiskan waktu terakhir saya disini, saya tinggal di salah satu Eco-Lodge yang dikelola oleh wanita namanya Liz yang juga adik dari Kakak Yosefin, mereka asli berdarah Flores yang sangat cinta dengan budaya dan kehidupan Flores. Saya banyak mendapatkan informasi dan cerita mulai dari indahnya budaya NTT sampai dengan mirisnya kehidupan Melo yang hanya 1 jam dari Labuan Bajo.
KETIDAKSETARAAN.
Membanggakan kegagalan Labuan Bajo, itu yang ada diotak saya saat itu. Bayangkan saja radius 1 jam dari wisata premium itu, masih banyak anak- anak tidak bisa sekolah dan kekurangan gizi, terbukti bahwa wisata premium yang dibanggakan itu sangatlah tidak punya dampak besar terhadap masyarakat lokal. Kapitalisme berjaya, warga lokal sengsara. Tidak ada edukasi yang diberikan pemerintah untuk setidaknya membentuk muda mudi Flores menjadi terampil dan berwawasan setara dengan beberapa pulau tetangganya di sebelah barat mereka.
Saya dan Kakak Liz banyak sekali bercerita tentang bagaimana Flores hidup, bagaimana Flores berjuang untuk tidak kalah dengan kapitalisme, berjuang mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Kakak Liz yang sempat menjadi guru di Bali dan sekolah di Malang, akhirnya kembali ke Tanah Flores karena dia merasa bahwa dia harus kembali merawat tanah kelahirannya. Banyak sekali cerita yang menyentuh hati saya yang tidak sekali membuat saya harus berusaha menahan tangis.
Saya salah menilai Labuan Bajo, ternyata pembangunannya yang cepat dan aksesibilitas yang lebih baik, tidak ada artinya. Banyak laut yang tercemar karena polusi kapal- kapal, sampah wisatawan, terumbu karang yang hancur, turis yang tidak teredukasi, pemerintah yang sepertinya tutup mata dengan isu isu yang terjadi di tanah Flores.
GOVERNMENT SHOULD PROTECT PEOPLE YET ITS NATURE AND REGULATE CORPORATION, NOT PROTECT CORPORATION AND REGULATE PEOPLE/ NATURE!!!!
TAK PUNYA POWER BUKAN BERARTI BERHENTI BERJUANG.
Saya berharap akan banyak manusia seperti Liz yang membela tanah Flores. Kesedihan saya tidak berujung hanya cerita, kepada Liz saya berkomitmen untuk melakukan pergerakan kecil untuk membuat NTT lebih baik. Sesederhana mengirim buku yang sudah saya baca ketika saya sekolah hingga kini, daripada menghabiskan uang untuk jadi implusive beli barang yang tidak penting. Berani untuk menyisihkan uang untuk membiayai adik asuh Flores untuk bersekolah, tentu tidak hanya saya, kamu juga bisa :).
Perjalanan saya di Flores belum selesai, saya akan kembali, atau mungkin suatu hari jika saya merasa bahwa kehidupan kota sudah tidak layak untuk saya tinggali, Flores selalu menjadi tempat dimana saya akan pergi mengahbiskan sisa waktu hidup saya.
BELAJAR MEMBUKA MATA.
Traveling bukan hanya sebuah aktifitas bepergian kesuatu tempat lalu berfoto adalah tujuan utamanya untuk pembuktian diri. Pembuktian diri seharusnya dilakukan pada diri sendiri bukan orang lain, karena pada akhirnya orang lain akan menutup mata atas apa yang terjadi didiri kita. Membukan mata bahwa orang lain mungkin punya kehidupan yang lebih kompleks, hal tersebut membuat kita sadar bahwa bersyukur dan menikmati present moment, dan empati adalah hal yang harus kita latih. Supaya kita tahu bahwa bersyukurlah yang membuat kita merasa cukup dan mengerti bahwa bahagia diciptakan, bukan dicari.
Thursday, December 31, 2020
Are You That Amazing, 2020?
"It is never be easy, but it is gonna be worth it"
That is a perfect quote if I need to describe 2020 in a short sentence. Let me flash back a bit about this whole year that I've highlighted:
- This year opened by me hospitalized in the new year caused Typhoid, yeaaaa I've been eating so dirty by damn heaven delicious WARTEG close to my new place. LOL.
- I missed my flight to Penang, it was only 2 minutes late to the check in counter.
- Freak out and confused in a whole damn month, because I need to decide to go for business trip in Singapore while at that time SG was orange zone for covid-19 while Indo hasn't.
- All my traveling plan canceled. While tickets was purchased. Visas been approved. Trips has settled.
- Covid-19 finally arrived in Indonesia.
- Life feels fucked up. WFH isn't that fun.
- Being stuck feels not creative.
- Mostly my investment goes down almost to the ground.
Saturday, September 19, 2020
How The Pandemic Change Me
Its been 7 months since I can't go anywhere. Staying home wasn't something fun for me. I feel the up and down of life even detail and have so much time to dig more in within. I wonder and talk to myself "Hei Lysa, is it really you? But, Hei! I am enjoying this feeling tho''.
During this pandemic I feel being alone is not that bad, I thought not meet people is gonna bore me until there is a point when I start to meet fake peoples around me, a peoples that most of them are simply bored. When peoples around me are just easy to come and go, but only the genuine one who stay.
Those experiences made me simply aware to value myself and my time even more. I am being very picky with whom I give my time, energy, and effort to. I prefer to reserve my time, intensity and spirit exclusively to those who reflect sincerity. Really, meeting people, especially new people would be a tricky situation for me, because there will be a thought like "Is my time well spent? Are they gonna drown my energy?". I just think if the encounter isn't meaningful or at least fun with an interesting topic especially something that I never knew before, I would prefer to stay home alone. Well, that's really OK for me, even better. I call it self time worthiness.
So what happened to me? To be fair, there is still a great deal of extroverts lurking there within me. Introversion and extroversion aren’t categorical, they are on a continuum. Maybe I’m just visiting the introvert side for a bit? Some theories suggest that introversion tends to express itself more as we age (like wrinkles weren’t enough to worry about). Previously I derived my energy from 'social' activities. And now I derive energy from a day-ful of 'serve' the entire company, but need a Spotify chilling or 3 hours of obsessive reading of a book (that I bought but rarely touched) in order to recharge.
After years of interrupting some people to tell them about my story, I’m much happier listening to theirs and silently judging them (JUST KIDDING!! HAHAHA). Maybe I’m starting to get old. Maybe I’m tired. Maybe I’m “on'' at work and need to be “off” the rest of the time. Whatever the cause, I’m embracing the current me. And embracing all those creepy quiet introverts I interrupted for the last 27 years. Sorry guys. I get you now.
Again, since I can not go anywhere this time seems a best time to reflect and build strategies to be executed once all start to be normal. Better, than be with someone who doesn't worth my time. 😜
Sunday, August 23, 2020
Refuel An Empty Soul
- One and only Mama who always welcome me warmly and feed me with my favorite meals everyday.
- Papa who always wake up to open the door in an early morning to cycling and share a snacks together.
- Akbar, Adit, Bani, and Arab who being such a cool cycling squad on gravel road.
- Fuad, the one who always down for every gabut things and for sure a cycling activities in Tangerang and Bandung.
- Ote who always feed me with carbs and sugar.
- Achop who accompany me explore a coffee shop in Bandung.
- Alif, for his experimental coffee and other beverages. I do enjoy for all caffeine rush that has been made by him.
- Emon who spend an hours to check Lale and share his experience that inspire me to do more cycling and get further.
Monday, June 1, 2020
I Never Want A Car Even More
TWO WHEELS, NO MATTER WHAT
TO PROTECT AND PRESERVE THE PLANET
I NEVER WANT A CAR EVEN MORE
Friday, April 3, 2020
A year to be aware WHERE WE ACTUALLY ARE.
But too bad, 2020 is opened with such a crazy situation.
Devastating floods in Jakarta.
Australian bush fire.
Ukrainian jetliner crash in Iran.
Death of Kobe Bryant in helicopter crash.
Communal riots in Delhi.
Taal volcano eruption.
Now, Corona virus, a pandemic that ruined every single plan and expectation.
Are we ready to face everything ahead? Not sure if we are so.
2020. Its a joke said some peoples around me.
A year of a negative growth.
A year of disappointment.
A year of a stressful.
A year of cruel world.
A year of a hopeless.
A year full of desperation.
Are we reflect on the roller coaster we’ve been riding for the past 3 months? There have been dips, peaks, and some seriously rattling loops, am I right?
Me? Yes I do what people doing in 2020, travel plan, expectation. working plan, everything!
All suddenly gone. All gone.
At some point I wonder maybe this year is a year of REFLECT our ambition and expectation.
To value our self-awareness. It’s enlightening to know why we do things, to recognize our triggers, to have clarity about what’s going on in our head and heart. Our willingness to believe we’re already ENOUGH. To be not greedy that make our wants become needs.
Be aware, where we are, what we are, why we are.....
2020 taught me so much, how to be patient, to accept a purely life when everything start out of expectation, to get in touch with myself thru myself. To remind myself that I can't be fail at being myself. I know, self-awareness sucks. BUT hopefully, we now see how we are sabotaging ourselves, how we are limiting our life with our mindsets about time and abilities, and how we need to have more respect for the resources that allow us to live our life.
We are frantically to earn enough (a lot) money but a things we are too busy too enjoy. Balance come, when you are stop, look at your life, and assess the things you genuinely want for yourself and your family. Be intentional. Work less. Live more.
2020 for me is a year of
Learning
Acceptance
Patient
Brave
Love
and aware where I actually am.




























