Friday, March 2, 2018

Wild Life Toursim at Africa Van Java

Afrika, sebuah benua yang selalu identik dengan epicnya wild life dan savana yang luas, meguning dan pegunungan tinggi yang jarang tersentuh. Afrika menjadi salah satu top list di bucket list "place to go before I die". 

Picture source: wisata-banyuwangi.com

Januari 2018 saya berkesempatan untuk datang ke Banyuwangi, selain untuk melihat  EKSOTISNYA KAWAH IJEN saya berniat untuk bertolak ke ujung timur pulau jawa yang terkenal sebagai Africa Van Java. Sebagai pecinta savana motivasi saya sejak kuliah berkunjung ke Banyuwangi adalah ke Taman Nasional Baluran karena melihat beberapa refrensi dari cerita traveler yang punya memori epic ke Baluran.

Kawasan TN Baluran terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur. Pergi ke Baluran sangatlah mudah, akses jalan yang ditempuh sangat jelas terlihat di GPS. Sebelum matahari naik ke tengah saya pergi ke Baluran dengan cuaca yang cukup mendung, agak khawatir sih karena saya takut sampai sana malah hujan dan ga bisa lihat apa- apa. Perjalanan ke baluran dari tengah kota Banyuwangi memakan waktu kurang lebih 1 jam dengan kendaraan (yang disewa secara) pribadi. 

Sesampainya di pintu masuk Taman Nasional Baluran, saya melihat pos yang tidak terlalu dijaga ketat, hanya ada petunjuk arah "KANTOR dan TIKET MASUK TNB". 
  • Harga tiket masuk pada weekdays
    Wisatawan Domestik : Rp.15.000/ orang sedangkan Wisatawan manca negara : Rp. 150.000/orang
  • Harga tiket masuk weekend atau hari libur nasional
    Wisatawan Domestik : Rp. 17.500 sedangkan Wisatawan manca negara : Rp. 225.000
  • Tarif parkir kendaraan:
    Motor : Rp. 5.000, Mobil 4 : Rp. 10.000.00, dan Bus : Rp. 50.000

First Impression saya ketika masuk kantor adalah "WOW!" petugasnya sangat informatif, harga tiketnya murah dan yang saya suka tiketnya official dan dibuat memang NIAT! Jadi dari design sampai bahan kertas yang digunakan sangat berkualitas dan yang paling penting TIDAK ADA PUNGLI! Kita hanya bayar satu kali di office dan kita bisa explore kawasan wisatawan yang ada di TNB.

Dengan luas yang cukup besar dengan objek penelitian yang cukup banyak Taman Nasional Baluran merupakan kawasan pelesatarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Jadi biarpun sangat besar pengunjung yang dikategorikan sebagai turis tidak bisa masuk ke zonasi yang hanya bisa dilakukan untuk penelitian.

Ada 2 tempat utama yang bisa kita kunjungi sebagai wisatawan di TNB yaitu "Padang savana Bekol" dan "Pantai Bama". Perjalan ke savana bekol cukup jauh, dari pintu masuk kita harus menempuh jarak kurang lebih 12 km dan +3km ke pantai Bama dengan kondisi jalan rusak.

source: situbondo.eastjava.com

Selama perjalanan saya disuguhkan dengan pemandangan hutan dengan kupu- kupu warna warni yang banyak sekali (saya belum pernah melihat gerombolan kupu- kupu sebanyak di Baluran) dan juga hutan yang cukup leba tepatnya ketika saya berada di "Evergreen Forest" .

Evergreen Forest dan Kondisi jalan sampai ke savana

Sesampainya di savana saya sangat takjub melihat savana yang hijau, bersih, dan luas sekali dengan latar belakang gunung Baluran. Luar biasa! Luas savana Baluran ini mencapai sepertiga dari luas keseluruhn taman nasional, yaitu 10.000 hektar dan menurut data savana si Baluran ini adalah savana terluas yang dimiliki Pulau Jawa.



Biarpun mendung saya bersyukur karena saat itu tidak hujan dan masih ada matahari.


Baluran menurut saya dikelola dengan baik, terlihat dari beberapa hal yang diatur dan disusun secara estetik namun tidak meusak atau mengubah struktur alami dari Taman Nasional itu sendiri. Salute!!


Salah satu fauna yang ada di Baluran adalah banteng (Bos javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis)

Selain itu, rusa (Cervus timorensis) juga kijang (Mutiacus muntjak) merupakan fauna yang akan sangat mudah ditemukan di savana ini.

Betapa senanganya saya ketika melihat segerombolan mahluk lucu ini yang bebas berkeliaran di tempat ini. 


3km dari savana bekol saya bertolak ke pantai Bama, sejujurnya sih ini pantai mangrove kalau saya lihat, karena pantai ini tergolong tidak bisa untuk berenang, alasannya selain monyet- monyet disini menggila dan pantainya banyak tumbuhahan dengan air dangkal dan juga banyak mangrove. Namun jika kalian mau snorkling ada spot yang bisa kalian tempu dengan perahu yang sediakan oleh Taman Nasional ini. Kalian bisa cek di website resmi TNB.

Pantai Bama. Jangan sekali- sekali meninggalakan barang- barang apapun, karena kalau monyet- monyet ini pengen ngemil kamu harus effort kejar- kejaran sama monyet dan mungkin sampai manjat ke pohon untuk ngambil barang kalian. Terbukti ketika saya kesana ada seorang pengunjung yang menurut saya cukup ceroboh, menghiraukan sekeliling hanya untuk selfie. 



TIPS SAAT BERKUNJUNG KE TAMAN NASIONAL BALURAN.


1. Waktu Berkunjung
Jam buka kunjungan pada pukul 07.30 – 16.00 wib setiap harinya.
Berkunjung saat musim panas musim ini adalah ] golden time dimana kamu akan melihat langit biru cerah dan savana yang kuning mengering, Sangat Afrika
- Musim kawin rusa sekitar bulan Juni s.d. Juli
- Musim kawin merak sekitar bulan Agustus s.d. September
- Cuaca musim hujan sekitar bulan Januari s.d. April
- Cuaca musim panas sekitar bulan Mei s.d. Desember

PS: Jika kamu mau melihat surise disini kamu bisa melakukan konfirmasi terlebih dulu sehari sebelumnya ke nomor 082332213114 (Trihari staf humas dan pelayanan pengunjung) dan melaporkan ke petugas security ketika masuk pintu gerbang.

2. Gunakan Kendaraan Pribadi
Taman Nasional TIDAK menyediakan kendaraan untuk berkunjung, tapi petugas setempat biasanya bisa membantu kalian jika kalian membutuhkan ojeg atau mobil untuk masuk kedalam. Namun ada baiknya kalian menyewa/ membawa kendaraan pribadi.

3. Patuhi Tanda/ Rambu dan Kurangi Interaksi Dengan Hewan
Ingat!!!! Ketika kamu datang kawasan dengan kategori WILD LIFE TOURISM kamu harus lebih bijaksana dalam berprilaku. Jangan memberi makanan pada hewan! Jangan berusaha untuk berinteraksi dengan hewan secara berlebihan menganggap hewan yang ada disana seperti hewan peliharaan atau jinak seperti di Taman Safari.
Selain itu, jangan masuk ke zona penelitian! Kalian akan sangat jelas melihat tanda bahwa ada area yang bisa kalian masuki atau tidak. Jadi BACA dan PERHATIKAN.

4. Bird Watching
Dan dikawasan tama nasional ini ada tower yang kamu bisa gunakan untuk bird watching kamu bisa kordinasi dengan petugas setempat. Ada ± 196 jenis burung di TN Baluran jenis-jenis yang mudah untuk dijumpai antara lain adalah merak hijau (Pavo muticus), ayam hutan merah (Gallus gallus), ayam hutan hijau (Gallus varius), kangkareng (Anthracoceros convexus) dan rangkong (Bucheros rhinoceros).

5. Tempat Tinggal
Jika kamu mau merasakan sensasi yang baru dalam berpetualang, kamu bisa tinggal si lodge yang difasilitasi oleh taman nasional dan lokasinya persis di depan savana bokol. Kamu bisa melakukan reservasi terlebih dahulu dan cek kamar yang sesuai dengan kebutuhan mu. Cari infonya di WEBSITE TAMAN NASIONAL BALURAN. Harganya cukup terjangkau menurut saya
.
6. Shop Local!!!!
Selalu, ini akan menjadi poin yang selalu ada di setiap trip saya. You know why Hahahahah!




Friday, February 2, 2018

MENGEJAR BLUE FIRE KE KAWAH IJEN

Gunung Ijen yang kawahnya sering banget diperbincangkan dan diperdebatkan oleh semua umat di muka bumi. Dimulai dari blue firenya yang epic sampe mata pencaharian masyarakat lokal yang ga kalah 'epic'. Ijen merupakan gunung berapi aktif dan tambang belerang terbesar di Indonesia. Tinggi gunung ini 2.799 mdpl dengan danau kawah berwarna turquoise super cantik. Sejak dulu kawah Ijen dijadilan "lapak kerja' bagi masyarakat lokal, para penambang memasuki kawah Ijen untuk menambang sulfur kuning yang keluar dari ventilasi panas. Ga cuma jadi lapak buat masyarakat tapi juga kawah ini jadi hal menarik bagi para pelancong dari seluruh dunia. Mereka biasanya bergabung dengan Ijen Crater Tour untuk melihat the legend BLUE FIRE di malam hari dan pemandangan kawah kuning berseblahan dengan turqouise yang menakjubkan.

HOW TO GET THERE.
Gunung Ijen berada di Banyuwangi. Untuk kesini dari Jakara kalian bisa pergi menggunakan flight tujuan langsung ke Banyuwangi (Garuda Indonesia/ NAM Airlines), atau bisa juga menggunakan kereta tujuan Jogja untuk transit lalu dari Jogja langsung Banyuwangi (St. Karangasem).

WHERE TO STAY.
Untuk kalian yang low budget/ backpacker, di Banyuwangi tepatnya di depan St. Karangasem ada rumah singgah yang bisa kalian bayar seikhlasnya karena memang rumah singgah ini diperuntukan untuk para pejalan yang ingin explore Banyuwangi dengan dana terbatas sekaligus jadi wadah sebagai silaturahmi. Kamar yang sediakan ada 5 kamar dengan kapasitas 1 kamar bisa samapi 4 orang. Kalo kalian ga kebagian kamar di rumah singgah, tenang aja banyak homestay mulai dari Rp. 50.000/ malam bisa diisi sampai 4 orang juga.
Jika kalian punya budget lebih dan mau tempat yang lebih nyaman, don't be worry, Banyuwangi punya hotel berbintang yang tentunya lebih nyaman misalnya Santika Hotel atau eL Royale hotel.

TRANSPORTATION.
Di Banyuwangi udah banyak GOJEK/ GOCAR jadi ga perlu khawatir. Tapi saya lebih memilih untuk menyewa motor karena lebih hemat dan mudah. Kalian bisa menyewa motor (dengan harga Rp. 75.000/24jam) di rumah singgah (St. Karangasem) karena disitu pemiliknya punya usaha penywaan motor dan homestay juga.
Untuk kalian yang tidak mau susah kalian bisa rental mobil (wajib dengan supir) dengan harga mulai dari Rp.300.000/ 8 jam.

HIKING TO IJEN MT.
Saya berkesempatan untuk mengunjungi kawah Ijen Januari 2018 ini, saya tidak mau berekspektasi akan melihat blue fire yang ramai diperbincangkan atau melihat pemandangan kawah ijen dari pinggir bibir kawah Gunung Ijen, karena seperti yang kita tahu bahwa cuacu di bulan ini kurang OK untuk naik gunung sudah 2 hari saya di Banyuwangi dan hampir setiap hari hujan dari siang sampai malam. Cuaca terbaik untuk menikmati Ijen biasanya dibulan Mei-September.

Untuk melihat blue fire kita harus pergi tengah malam dengan asumsi pukul 01.30 dini hari kita sudah harus tiba di pos pendakian. Perjalanan ke Ijen cukup berbahaya, jalannya gelap dan berliku untuk yang skill nyetirnya buruk sebaiknya berhati- hati dan pelan- pelan saja karena memang jalanan sangat gelap, menanjak, dan banyak tikungan tajam. Jika kalian minder dan merasa tidak akan sanggup dengan medan ini kalian bisa ikut open trip atau sewa mobil + driver.

Lama perjalanan tidak terlalu lama rata- rata kita tiba dibibir kawah dalam waktu 2 jam dengan jalan santai dan istirahat di check point agak lama. Jika kalian konstan terus berjalan tanpa banyak istirahat, biasanya dalam waktu 1 jam 30 menit sudah tiba di bibir kawah, medan pendakian tegolong mudah dan cocok untuk pemula. Dari bibir kawah kita harus turun lagi ke kawah dengan medan jyang jauh lebih sulit karena licin dan berbatu, belum lagi asap sulfur yang bisa buat mata kita pedih banget dan sesak nafas (ini hal yang paling saya benci). Lama perjalaann turun sekitar 45 menit,bagi pemula dan yang jarang hiking malam disini kalian harus extra hati- hati karena jalur tidak telihat jelas dan banyak jurang yang terlihat seperti jalan. BE CAREFUL OR YOU GONNA DIE! I'M SERIOUS!!!! Kalo kata orang jawa "Alon alon bae sing penting selamet".

LUCKY SEKALI! Di musim yang kurang OK ini, saya bisa melihat blue fire yang besar dan clear sekali, padahal hari sebelumnya saya cuma dapet cerita kalau blue firenya cuma sebesar api kompor.
The power of less expectation kali ya, jadi sekalinya dapet yang segede gini kegirangan.

Blue fire yang lama diperbincangkan, blue fire ini bisa terlihat jelas hanya ketika malam hari. Namun lebih baik kalian tiba disini pukul 04.00 karena biasanya para penambang menyiram api tersebut karena mereka ma menambang sulfur yang ada di area blue fire berada.

The Eternal Flame. FYI! Blue fire ini cuma ada dua di dunia loohhh menurut salah satu jurnalis (yang melakukan investigasi) blue fire ada di Indonesia (Kawah Ijen) dan Ethiopia (bukan di iceland).

Jangan lupa untuk menyewa masker khusus (seharga Rp. 25.000) karena ini sangat membantu kalian bernafas selama di kawah. Sumpah! Selama saya naik gunung kawah ini yang buat mata saya berasa kebakar dan sistem pernafasan saya asem banget kaya dicekek. Jadi jangan cuma pake masker biasa ya!


Setelah puas melihat blue fire. pukul 04.30 Saya naik ke bibir kawah lagi, ceritanya ngejar sunrise, namun sayang ternyata sunrisenya ada di belakang bukit yang tidak bisa didaki. Akhirnya saya mengelilingi bibir kawah dan ada beberapa spot yang masih bisa melihat sedikit cahaya dan negri diatas awan.

 
Jangan puas ketika bertemu bibir kawah pertama, coba sedikit all out dan habiskan tenaga kalian untuk mengitari bibir kawah, karena beberapa spot memiliki breathaking view (dengan gunug raung di depan dan baluran dibelakang) dan spot ini cukup sepi dari pengunjng, jadi kalian bisa menikmati Ijen lebih puas.



Agak mendung tapi tetap menawan dan cantik sekali. Bersyukur sekali masih dikasih view kaya gini dimusim yang ga menentu kaya gini.

Jalur mengitari bibir kawah, tidak terlalu berbahaya dan curam. Namun harus tetap hati-hati ya!

  
Karena lagi low season jadi memang tidak terlalu banyak pengunjung, ini alasan saya mengapa saya senang traveling di 'musim sepi' karena saya benar-benar menikmati alam bukan nonton lautan manusia yang kadang-kadang agak alay (re: buang sampah sembarangan, putar musik keras-keras, vandalisme, dan sejenisnya)

Sempet deg-degan katanya suhu di bibir kawah bisa sampai 5°C, while karena tidak punya preparasi untuk naik gunung yang tinggi saya cuma bawa baju olahraga seadannya.  Tapi bersyukur saat saya kesana suhu tidak terlalu dingin mungkin hanya 12-15 °C. Mungkin karena musim hujan juga jadi tidak terlalu dinggin seperti musim panas.



Oia! Grobak- grobak yang kalian liat ini berubah fungsi jadi 'taxi'  diperuntukan untuk turis-turis yang lemah tidak kuat lagi berjalan/hiking. Jadi si turis naik ke grobak yang telah diberi busa tempat duduk dan di tarik oleh para penambang belerang yang sudah ahli profesi menjadi 'supir taxi'. Tarifnya mulai dari Rp. 400.000/ orang untuk naik dan Rp. 200.000/ orang untuk turun.

 
Meskipun berjamur taxi Ijen, tapi penambang belerang masih tetap banyak dan eksis. Biasanya belerang terseut akan dikirim ke Surabaya untuk keperluan bahan baku skin care dan kosmetik. Rata-rata penambang menambang 75kg belerang dalam 3-4 kali bulak- balik kawah. Yang buat saya sedih segaligus kaget adalah belerang yang mereka tambang hanya dihargai Rp. 1000/ kg, sangat tidak sebanding dengan resiko dan beban yang mereka hadapi.

Penambang belerang kawah Ijen merupakan pekerjaan dengan resiko cukup besar dan betaruh nyawa, bayangkan saja jika harus mengangkat beban 25-30kg naik turun kawah (dengan tingat keasaman salah satu yang tertinggi di dunia) dengan medan batu licin dan asap sulfur yang sangat tajam. May God bless them dan membukakan mata, hati, dan pikiran para kapitalis yang membeli bahan baku bertaruh nyawa seharga ale-ale.


Well, perjalanan  saya ke gunung Ijen sangat menyenangkan sekali. Perjalan ini menjadi perjalan favorit saya diawal tahun 2018 ini. Semoga kalian yang berniat kesini tetap menjaga kebersihan dan tidak menggangu habitat yang ada di Gunung Ijen. Dan jangan lupa untuk selalu SHOP LOCAL!


Rincian Biaya:

Transportasi.
FROM JAKARTA
  • By Plane
    Jakarta- Banyuwangi / Jakarta- Banyuwangi
    Garuda Indonesia : start from Rp. 700.000/ pax
    NAM Air : start from 590.000/pax
  • By Train
    Jakarta- Surabaya (transit) start form Rp. 165.000 (ekonomi)
    Surabaya- Banyuwangi start from Rp. 94.000 (ekonomi)
FROM BANDUNG
  • By Train
    Bandung- Yogyakarta (transit) start from Rp. 84.000 (ekonomi)
    Yogyakarta- Banyuwangi start from Rp. 94.000 (ekonomi)
Transportasi selama di Banyuwangi
  • Rental Motor : Rp. 75.000 (lepas kunci)
  • Rental mobil : Rp. 300.000- 500.000 (sudah termasuk bensin + supir)

Akomodasi.
Rumah Singgah : Seikhlasnya
Homestay : Start from Rp. 50.000 (area st. karangasem)
Guest house: start from Rp. 150.000
Hotel: Start from Rp. 300.000

Tiket Masuk.
Akses masuk jalan arah Ijen : Rp. 5000/ motor, Rp. 10.000/ mobil
Tiket masuk Ijen : Rp. 15.000/ wisnus, Rp. 150.000/ wisman
Parkir motor : Rp. 5.000
Guide: Start from Rp. 200.000


Contact Person:
Rumah Singgah/ Sewa Motor : Mas Rahmat 0819-1391-4231

Friday, October 27, 2017

Mengenal Sejarah Dengan Pergi ke Museum

HAI TEMAN- TEMAN SEBANGSA DAN SE-TANAH AIR INDONESIA !!!
Saya mau nanya! Apa cuma saya yang rela ngabisin waktu dan panas- panasan di museum? Mudah- mudahan sih engga ya. Karena dari jaman saya sekolah museum hanya dijadikan tempat  field trip sekolah yang membosankan atau paling banter jadi lokasi shooting tugas anak sekolahan.

Berbicara tentang museum pasti tidak akan lepas hubungannya dengan sejarah atau cerita masa lampau ke masa kini, kalo kata Orhan Pamuk "Real Museums are places where TIME is transformed into SPACE". Ga cuma itu pergi ke museum juga menjadi salah satu bentuk usaha kita mengenal siapa bangsa kita sebenarnya, seperti yang Soe Hok Gie juga bilang "Mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat" biarpun konteks Gie dalam statement itu alasan dia naik gunung but, its OK lah maksud saya sebelas dua belas kok dengan dia *maksa*.

Minggu lalu saya pergi ke Jakarta awalnya bingung sih mau apa karena Jakarta selalu memiliki image nge-Mall, nge-Gaul, nge-Glamour. But waktu itu saya melihat bus double deck di jalan yang saya sudah tau itu bus wisata kota Jakarta yang mengatar masyarakat untuk keliling ke daerah wisata di jakarta secara GRATIS! (Terimakasih Pak Ahok! You made this city IMPROVED!) Karena itu akhirnya saya memutuskan untuk menambah wawasan saya tentang negeri yang sangat saya cintai, Indonesia dengan pergi ke beberapa museum di Jakarta. Apa saja museumnya? Lets check this out!

1. Museum Kebangkitan Nasional.
Lokasi : Jalan Abdurrahman Saleh No.26, sebelum RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. 
Untuk yang  membawa kendaraan pribadi parkir disini ga terlalu susah karena parking areanya bisa untuk 10 mobil (termasuk di pinggir jalan).

Jam Oprasional:
Selasa - Minggu : 08:00 - 16:30
Senin dan hari libur nasional : Tutup

Harga Tiket: HARATIS alias Gratis.

Ketika saya masuk ke museum ini yang terlintas dibenak saya adalah "Ini museum kaya sekolah ya?" dan benar saja, museum ini dulunya adalah sekolah kedokteran yang didirikan oleh Belanda dengan nama STOVIA (masih ingat? hayoooo ama SMP pelajar sejarah pada tidur ya? hahaha). Koleksi di museum ini tidak jauh dari hal- hal yang berbau medis dan juga pendidikan.

Lorong waktu *loh kok kaya sinetron*

Y; Kaya SD ya!
X: Iya! SD gw kaya gini nih di St. Urs*la
Y: Sampe sekarang?
X: Iyeeeee
Y: Pasti banyak hantunya?
X: Naahhh katanya sih iya.
Y: Hiiiiiiiii...

Sial ada photo bomb diluar jendela

Seriously! Bangsal ini menyeramkan!
Diberkatilah kalian wahai dokter Indonesia yang jaga bangsal macam ini di daerah saat malam hari.
May the force be with you.

Belajar yuk! Belajar jitakin kepala orang yang isinya bubuk rengginang.

Mijetin si ibu kasian belajar dari taun 1902.

Didalam museum ini ada hall/ aula yang  bisa digunakan untuk keperluan meeting atau acara- acara tertentu (kebetulan saat saya brkunjung ada acara peresmian *entah apa* dari organisasi islam) dan juga kantin yang alakadarnya lumayan kalo tiba- tiba lapar atau haus kantin ini cukup bisa diandalkan.


2. Museum Nasional Indonesia
Lokasi : Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. 
Lokasi parkir di museum ini sangat banyak ada 2 basement yang bisa dipakai oleh pengunjung.

Jam Oprasional:
Selasa - Minggu : 09:00 - 16:00
Senin dan hari libur nasional : Tutup

Harga Tiket:
Umum          : Rp. 5000
Anak- Anak : Rp. 2000
Wisman        : Rp. 10.000


Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar se-Asia Tenggara lho... Sumpah ini museum gede banget! Ada 2 gedung gedung Arca dan gedung lama yang terdiri dari  4 lantai di dalamnya dan rata- rata setiap lantainya menceritakan tentang sejarah budaya dan manusia di Indonesia, tapi sayang sekali saat itu gedung Arca (yang sedang hits menjadi wedding venue) sedang direnovasi  jadi saya hanya bisa pergi ke gedung lama.
Karena asik melihat- lihat dan membaca saya tidak banyak ambil foto disini.

Monumen Gajah

Gedung Arca

Sebenarnya saya super penasaran sama gedung Arca karena liat di foto orang- orang tempat ini photogenic banget, tapi apa daya lah hahaha. Setelah mengelilingi museum nasional saya memutuskan untuk parkir mobil di museum ini dan pergi ke museum lainnya dengan menggunakan bus wisata, namun sayang bus wisata saat itu rame banget dan super ngantri. Jadi karena saya tidak mau menghabiskan waktu untuk menunggu akhirnya saya memutuskan untuk naik transjakarta ke arah kota tua.

3. Museum Bank  Mandiri
Lokasi:  Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat.
Jika kamu naik transjakarta kamu bisa berhenti di halte busway "Jakarta Kota".  Tidak ada lahan parkir di museum ini.

Jam Oprasional:
Selasa - Minggu : 09:00 - 16:00
Senin dan hari libur nasional : Tutup

Harga Tiket:
Umum                                      : Rp. 10.000
Nasabah Mandiri / Mahasiswa : Rp. 5000

Layaknya bank, museum ini emang kaya bank banget dengan versi vintage dan remang- remang *loh*. Saat masuk ke museum ini nuansanya sangat tua, semua earthy colour, kayu- kayuan, dengan hall yang besar.

Koleksi di museum ini terdiri dari berbagai macam koleksi yang berkaitan dengan perbankan dari jaman nenek saya lagi gaul- gaulnya sampai berkembang dimasa saya yang lagi gaul- gaulnya, koleksi yang dimiliki mulai dari perlengkapan operasional bank, surat berharga, mata uang kuno, brandkast, dan lain-lain.

Typewriter super cool!

Berasa di sekolahan juga

Halaman Belakang

Berasa di gereja hahaha

Bagian depan

Ini hal yang paling saya suka!! Lift jaman dulu banget cuma mengantarkan ke 3 lantai dan sumpah aslinya ini lebih keren.

Overall, saya sih kesannya biasa aja sama museum ini, gedungnya tua dan beberapa area sangat tidak terawat dan cenderung menyeramkan. Mungkin banker akan lebih tertarik kali ya, karena memang museum ini memperlihatkan alat- alat banking dari masa ke masa, dari ATM jaman ultraman silat sampe bisa breakdance, begitupun dengan brandkast yang ukuran biji cabe sampe segede cabe- cabean.


4. Museum Bank Indonesia
Lokasi:
Jl. Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat
Lahan parkir disini cukup luas bisa masuk untuk puluhan mobil. Lokasi bersebelahan dengan museum Bank Mandiri.

Jam Oprasional:
Selasa - Jumat   : 07:30 - 15:30
Sabtu - Minggu : 08.00 - 16.00
Senin dan hari libur nasional : Tutup

Harga Tiket:
Umum                      : Rp. 5.000
Pelajar/ Mahasiswa  : GRATIS

Berbeda dengan museum Bank Mandiri yang cenderung tua, museum ini justru terlihat mengikuti perkembangan zaman yang semakin hi- tech ketika masuk museum ini kesan pertama yang saya dapat adalah penuh, ngantri, dan ribet. Jadi ketika saya mau masuk ternyata museum ini dikuota jadi ketika kapasitanya penuh otomatis pengunjung harus waiting list untuk masuk karena saya berfikir akan lama jadi saya memutuskan untuk makan siang dulu di cafe di area dalam museum. Setelah makan siang akhirnya saya kembali ke museum dengan antrian yang tidak sebanyak tadi lalu masuk kedalam dan membayar tiket masuk.
Di museum ini kita sama sekali tidak diperbolehkan membawa tas, jadi ini cukup buat saya ribet berhubung isi tas saya adalah nyawa saya maka barang berharga harus saya keluarkan dan tenteng kemana- mana, ah! merepotkan!

Lunch saya siang itu. Gado- gado! Jakarta banget ya?

Di dalam gedung.


Museum ini saat weekend laris dijadikan venue wedding outdoor


Ini bagian yang paling saya suka di Museum ini! Cara menyampaikan sejarah dengan komik!
Saya suka sekali konsep ini, membuat anak- anak (dan si pemalas baca) mau membaca dan sangat mudah dicerna.
Art make everything so much better and easier.  WE NEED ALOT OF ARTIST IN THIS WORLD.


Museum ini menceritakan tentang perkembangan ekomoni indonesia, membahas berbagai macam mata uang. Di bandingkan dengan Museum Bank Mandiri, museum ini cenderung informatif dengan pengemasan yang menarik serta mudah dipahami. Design interiornya bagus dan alur 'cerita' museumnya pun sangan asik diikuti. Jika kamu mau ke museum di Jakarta, museum ini harus menjadi salah satu destinasi dilist kamu.

Dari empat museum yang saya kunjungi, yang paling saya suka adalah museum Bank Indonesia, biarpun agak ribet tapi museum ini worth it untuk dikunjungi. Setelah selesai mengunjungi museum Bank Indonesia, saya bergegas kembali ke museum nasional untuk ambil mobil, karena waktu parkir hanya sampai jam 5 sore.

Harapan saya untuk museum di Indonesia, semoga museum Indonesia mau berbenah diri dan terus melestarikan sejarah juga mengemas sejarah menjadi hal yang menarik karena seperti yang kita tahu bahwa museum tidak lepas dari kesan kotor, panas, tua, kusam, tidak terawat, dan sering kali tidak terlalu informatif yang menyebabkan masyarakat enggan mengunjungi museum, padahal dengan ke museum kita akan tahu sejarah, identitas bangsa, mengenal negara, dan tentu memupuk rasa nasionalisme rakyatnya. Peduli terhadap sejarah merupakan hal yang penting agar kita sadar betapa berharganya kita berdiri di tanah merdeka, Indonesia.

So!!! Seberapa jauh kamu mengenal bangsa dan negara mu?







NB: Karena trip ini dadakan, jadi saya mengambil gambar hanya dengan kamera handphone. Tidak ada preparasi jadi tidak bawa kamera yang proper untuk ambil gambar. HAHAHAHAHAHAHAHA